NADIKABAR.COM — Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof. Rhenald Kasali, menyoroti penyelenggaran konser bertaraf internasional yang mampu meningkatkan ekonomi suatu wilayah. Ia menyinggung soal konser tersebut yang mampu memberikan multiplier effect dalam berbagai sektor.
"Kalian barangkali sudah mendengar dan menyaksikan betapa besar dampak ekonomi dari konser-konser yang dilakukan di Indonesia belakangan ini. Yang datang bukan hanya orang Indonesia, tapi juga orang asing dan kemudian mereka juga buat konten, sebarin ternyata Indonesia seperti apa. Kafenya bagaimana, transportasinya bagaimana, masyarakat, para pedagangnya, semua kebagian dapat cerita di dunia internasional," kata Rhenald mengawali pendapatnya melalui akun resminya, Jumat (30/10/2026). NadiKabar sudah diizinkan untuk mengutip pernyataan itu.
Ia berbicara soal efek pelipat gandaan ekonomi dari terselenggaranya konser penyanyi internasional. Rhenald menyebut mayoritas penonton yang datang ingin mendapatkan pengalaman secara langsung.
"Bahkan kemudian ada dampak yang di dalam ekonomi disebut efek multiplier, pelipatgandaan ekonomi. Nilainya antara Rp 450 sampai Rp 600 miliar. Luar biasa, ya. Kita apresiasi upaya Pemda DKI yang mengangkat ini, juga pihak lain yang terlibat," ujar Rhenald.
"Nah, inilah experience economy. Padahal mereka semua ada di YouTube itu, tinggal kita nonton. Tapi orang pengin experience, pengin get the feeling, pengin involved. Sama lah Anda juga ikut maraton yang berbayar, padahal lari gratis. Anda juga belanja offline, padahal online banyak yang murah. Experience," tambahnya.
Ia lantas menyinggung soal konser Andrea Bocelli di Indonesia mendatang. Ia menyoroti gelaran konser di Jakarta dan Candi Borobudur, Mangelang, yang mampu membawa efek ekonomi tambahan.
"Sekarang mari kita lihat konser yang sedang ramai diberitakan 31 Oktober besok. Andrea Bocelli akan dilakukan di dua tempat sekaligus, di Jakarta dan juga di Borobudur. Ini di dunia ini sudah biasa itu. Dunia itu memasarkan pariwisatanya dengan menjadikan tempat-tempat pertunjukan yang bersejarah. Misalnya saja di Itali, ya. Itu banyak tempat-tempat yang bersejarah dilakukan. Di Yunani, di Acropolis itu," kata dia.
Kendati demikian, akademisi UI ini menyadari jika gelaran konser Andrea Bocelli mendapat kontroversi. Ia mengatakan setiap masukan harus selalu didengar sebagai pertimbangan.
"Nah, tokoh-tokoh seperti ini tentu bisa mendatangkan bahwa terjadi kontroversi, terjadi penolakan-penolakan itu memang harus didengar. Harus didengar. Ini kalau misalnya mau dilaksanakan begitu, ya, itu tentu kan harus ada shared value yang diberikan. Dan bukan cuma value, tapi values, nilai-nilai," kata Rhenald.
"Panitia saya dengar juga akan membagikan sepatu untuk anak-anak Palestina, that is good. Lalu ada lampion dan orang bisa menaruh harapan-harapannya di sana. Ini kan akan baik, ya," sambungnya.
Rhenald meyakini konser Andrea Bocelli ini akan mendatangkan ekonomi yang positif ke RI. Ia menilai ada value di sana terkait pengadaan donasi untuk bangsa Palestina.
"Dan dampaknya adalah bukan hanya penonton kita tapi juga penonton dari negara lain, dan mereka bisa mengapresiasi karya-karya besar bangsa kita. Apalagi, ya? Banyaklah yang bisa dilakukan termasuk donasi yang melibatkan bukan penonton yang ingin memberikan donasi kepada Palestina. Inilah satu dampak ekonomi dari suatu pertunjukan bahwa memang ada yang harus kita dengarkan, tetapi juga harus kita lihat dampak ekonominya. Bukan hanya sekadar suatu pertunjukan lalu kemudian menghibur diri kita," imbuhnya.