Kehadiran taksi online, terang Uncle Kus, telah merugikan para penyedia jasa transportasi lokal. Menurutnya, setelah taksi online masuk menjemput turis, para sopir lokal hanya menjadi penonton di wilayah sendiri.
"Itu kan dapur teman-teman driver lokal, jangan sampai hanya menjadi penonton di tengah geliat aktivitas wisata di wilayah sendiri. Itu sebagai dapur teman-teman yang ada di sini," ujar Uncle Kus.
Tercatat ada sekitar 40 sopir yang tergabung dalam komunitas driver. Para sopir bukan hanya berasal dari Desa Tetebatu, melainkan ada enam desa wisata yang lain, mulai dari Desa Kembang Kuning, Desa Tetebatu Selatan, Deaa Kotaraja, Desa Loyok, Desa Pringga Jurang, dan Desa Montong Gading.
"Sudah lama teman-teman ini mangkalnya di Tetebatu, makanya mereka bergabung menjadi satu komunitas," jelas Uncle Kus.