NADIKABAR.COM — Asep Hidayat Mustopa menjadi salah satu kandidat yang masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan. Asep merupakan penggerak Desa Wisata Hanjeli di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang mengembangkan hanjeli sebagai pangan lokal alternatif.
Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Sejumlah anggota Dewan Pakar hadir langsung dalam rapat dan yang berhalangan hadir tetap memberikan pandangan serta kontribusi dalam pembahasan.
Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 yaitu Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.
DPD RI Awards 2026 ada empat kategori penghargaan, yakni Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan dan Pelestari Budaya Daerah.
Asep Hidayat menjadi penggerak Desa Wisata Hanjeli yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Melalui komoditas hanjeli, Asep menginisiasi gerakan pemberdayaan masyarakat untuk kembali menanam, mengolah dan memanfaatkan hanjeli sebagai sumber pangan alternatif yang bernilai ekonomi.
Inovasi ini tak hanya berhenti pada budidaya hanjeli, tetapi berkembang menjadi ekosistem desa mandiri pangan yang terintegrasi dengan sektor pariwisata edukasi yaitu desa wisata, UMKM, dan pemberdayaan sosial.
Asep melibatkan masyarakat mulai dari proses tanam hanjeli, pengolahan hanjeli menjadi berbagai produk turunan hingga pemasaran Desa Wisata Hanjeli yang berada di kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu.
Dalam menggerakkan Desa Wisata Hanjeli, Asep memakai pendekatan yang menggabungkan aspek lingkungan, ekonomi dan sosial. Dia memanfaatkan lahan yang tidak produktif untuk budidaya hanjeli. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor lain, kini memiliki alternatif penghasilan dan generasi muda mulai dikenalkan kembali dengan pangan lokal.
Melalui Desa Wisata Hanjeli, Asep menjadikan hanjeli sebagai model nyata penguatan ketahanan pangan desa yang berkelanjutan, inklusif serta mampu menjawab tantangan krisis pangan di masa depan.
Dari sisi produksi, panen hanjeli telah menghasilkan lebih dari 20 ton dan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Di antaranya bubur hanjeli, rengginang hanjeli, brownies hanjeli, beras hanjeli, tepung hanjeli, kerupuk hanjeli, sabun hanjeli, hingga kerajinan dan aksesoris hanjeli.
Secara ekonomi, Asep menyampaikan Desa Wisata Hanjeli mampu menciptakan perputaran omzet hingga ratusan juta rupiah per tahun. Desa Wisata Hanjeli juga melibatkan lebih dari 150 anggota masyarakat dalam rantai produksi hanjeli dan wisata.
Saat ini, Desa Wisata Hanjeli telah menjadi destinasi edukasi berbasis pangan lokal pertama di Indonesia yang dikunjungi oleh berbagai institusi nasional dan internasional, sehingga memperluas akses pasar dan jejaring kolaborasi serta bagian dari Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark.
Dari sisi sosial, kata Asep, Desa Wisata Hanjeli mendorong pemberdayaan perempuan, kelompok tani dan generasi muda melalui pelatihan, pendampingan serta keterlibatan langsung dalam kegiatan desa. Program ini juga berkontribusi dalam pelestarian budaya dan pangan lokal yang hampir punah.