"Waktu itu saya sudah gak kuat rasanya mau pingsan. Lalu naik ke atas masuk ke dalam hotel dengan membawa dokumen-dokumennya pelaku. Ternyata di hotel itu gak ada siapa-siapa," tuturnya.
Dalam kondisi yang sudah lemah itu, korban merasa bahwa pelaku memegang kedua bahunya dan mendorong tubuhnya ke kasur. Saat hendak bangkit, dia malah ditampar dan dijambak.
"Dia marah mengancam pecat saya, gaji tidak dikeluarkan, keluarga diancam mau dikirimi tukang pukul. Karena kondisi saya dibawah pengaruh alkohol, dia memperkosa saya saat itu," bebernya.
Keesokan paginya korban bangun tidur dan menyadari sudah dalam keadaan telanjang, begitupun dengan pelaku. Tangan pelaku ada di perutnya. Korban lantas ketakutan dan segera menngenakan pakaiannya.
"Setelah saya pakai baju, pas balik itu dia sudah berdiri dengan telanjang. Dia kemudian mengancam saya kalau bilang-bilang keluarga saya bakal dihabisi sama tukang pukul, gaji gak dikeluarkan, dan anak-anak resto dibuat sengsara,"kata dia.
Korban lalu dipaksa menerima sejumlah uang yakni Rp500 ribu dan diancam. Saat itu pelaku mengancam keluarga korban akan dihabisi oleh tukang pukul.
Akhirnya korban terpaksa menerima uang tersebut dan pulang ke kosnya. Sedangkan pelaku kembali ke restoran dengan berjalan kaki. Usai kejadian itu, korban menjadi sering dipanggil ke ruangan pelaku saat di resto. Korban sendiri bekerja sebagai sekretaris restoran tersebut.
"Di dalam ruangan itu ada satu bilik kamar, di situ (sering terjadi pelecehan). Dengan ancaman yang sama. Saya takut. Lalu pada 21 Mei 2026, dia kembali mengancam saya dengan ancaman yang sama, agar mau tinggal di rumahnya. Waktu itu dia bilang kalau di sana ada ARTnya," ungkap dia.
Korban lantas menuruti kemauan pelaku karena ketakutan. Usai restoran tutup, pelaku menjemput korban untuk diajak ke rumahnya yang berada di kawasan Wiyung. Di sana pemerkosaan itu kembali terulang.
"Modusnya sama, memberi saya banyak minuman beralkohol. Saya ketakutan. Takut keluarga saya dibunuh atau saya yang dibunuh. Karena beberapa kali itu saya ngerasa ada orang yang mengikuti saya. Saya menuruti dia karena dibawah tekanan ancaman," terangnya.
Kekerasan seksual itu terjadi berulang hingga 21 Mei 2026. Awalnya, pelaku biasanya mencekoki korban dengan miras.
"Saya sempat agak lega pada 21 Mei sampai 2 Juni pelaku meninggalkan Indonesia dan pergi ke Korea. Waktu dia di Korea, kalau saya belum pulang itu langsung dichat ditanya dimana. Kalau gak cepet pulang keluarga saya mau dikirimi tukang pukul," ceritanya.