Akibat adanya penyensoran, sulit untuk mengetahui sejauh mana sentimen ini sebenarnya tersebar di China. Namun, perasaan terhimpit itu merembes ke dalam diskursus publik melalui berbagai cara lain.
Kecemasan tersebut dengan cepat berubah menjadi kemarahan dalam perdebatan daring, baik mengenai ujian masuk universitas, uang mahar pernikahan, maupun skandal keamanan pangan. Istilah-istilah yang mencerminkan suasana hati ini telah menjadi tren selama bertahun-tahun.
Yang paling terkenal adalah 'lying flat' (berbaring rebahan), yaitu saat orang-orang memilih untuk sepenuhnya keluar dari persaingan hidup yang sengit dan 'involution' (involusi) yang merupakan istilah untuk menggambarkan persaingan ketat yang hanya menghasilkan sedikit imbalan berarti.
Xiang meyakini ada dua faktor yang memperparah kecemasan ini, yakni pasar properti dan sistem pendidikan tinggi. Ledakan pasar properti, yang dipicu oleh ketergantungan pemerintah daerah pada penjualan lahan, telah mengaitkan rasa aman dan kesuksesan keluarga dengan nilai rumah mereka.
Selain itu, lonjakan jumlah mahasiswa yang masuk universitas telah menaikkan standar pencapaian. Dia menyebut hal itu memicu persaingan terasa semakin sengit.
Hasilnya, menurut dia, adalah sebuah pola umum yang diikuti semua orang: meraih gelar yang bagus, mendapatkan pekerjaan stabil, menikah, dan membeli rumah.
"Ketika 1,4 miliar orang berlomba dalam ajang yang sama, itulah yang disebut involusi," ujarnya.
Sekitar 3 tahun lalu, saat mengetahui bahwa sebuah kamp bagi 'digital nomad' atau tempat dia pernah menjadi pembicara, menaikkan harga setelah kunjungannya, dia 'menyadari bahwa dirinya tidak lagi hanya dikenal di kalangan akademisi'.
Banyak rekan sejawatnya, kata dia, lebih mengutamakan publikasi penelitian dan bersikap 'cukup dingin' terhadap metode-metode yang dia gunakan. Beberapa orang bahkan memperingatkannya untuk 'menjaga bulu-bulunya', sebuah ungkapan China yang bermakna menjaga reputasi diri. Namun, Xiang justru merasa bersemangat dengan popularitasnya itu.
"Jika ada yang menyebut saya 'influencer', saya akan menganggapnya sebagai pujian. Sebab, pengaruh nyata yang bisa saya berikan adalah membuat orang berpikir secara mandiri," ujarnya.