Kecintaannya terhadap Slash dan reptil kemudian bertemu ketika ia berusia 12 tahun. Saat itu, ia menerima majalah Reptiles Magazine yang menampilkan Slash sedang memegang ular piton retikulasi peliharaannya di sampul.
Ruane mengisahkan, momen tersebut membuatnya berpikir bahwa Slash adalah sosok yang sangat keren. Kini, bertahun-tahun kemudian, nama Slash justru digunakan untuk menamai spesies ular yang ditemukan dalam penelitian Ruane.
Spesies baru ini berasal dari Papua Nugini, wilayah yang daratannya terbagi bersebelahan dengan Papua, Indonesia. Hutan tropis di kawasan tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar dan masih belum banyak dipelajari ilmuwan.
Peneliti pertama kali menemukan ular yang belum dikenal tersebut pada 2006 ketika melakukan kerja lapangan di New Guinea. Penelitian yang lebih ekstensif kemudian dilakukan sekitar satu dekade setelah penemuan awal untuk mempelajari lebih jauh ular-ular yang masih kurang dikenal di wilayah tersebut.
Lielaphis slashi merupakan ular tanah yang aktif pada malam hari. Menurut Chris Austin, salah satu penulis studi yang diterbitkan di jurnal Zootaxa, ular jenis ini paling mudah ditemukan setelah matahari terbenam, terutama di sekitar pangkal pohon-pohon besar ketika sedang mencari makanan.
Namun, pencarian pada malam hari bukan pekerjaan sederhana. Peneliti harus berhati-hati karena terdapat beberapa spesies ular sangat berbisa di New Guinea yang memiliki penampilan mirip dengan ular tanah yang tidak berbisa.
Penampilan Lielaphis slashi saja awalnya belum cukup untuk memastikan bahwa ular tersebut merupakan spesies baru. Para ilmuwan kemudian menggunakan sejumlah analisis genetik dan menemukan bahwa L. slashi secara genetik berbeda dari ular lain yang memiliki kemiripan dalam genus yang sama.