Perbedaan karakter fisik, termasuk jumlah sisik, ditambah bukti genetik akhirnya menunjukkan bahwa ular tersebut memang merupakan spesies baru. Peneliti juga menemukan bahwa habitat yang disukai dan cara makan L. slashi berbeda dari ular-ular serupa.
Ular dalam genus tersebut umumnya memiliki gigi besar di bagian belakang mulut yang dapat digunakan untuk menangkap dan memakan kadal kecil dengan sisik licin serta telur reptil lainnya. Namun, ular ini tidak menangkap dan meremas mangsanya seperti boa constrictor.
Yang menarik, meski namanya kini identik dengan salah satu gitaris rock terkenal, Lielaphis slashi bukan ancaman serius bagi manusia karena tidak menghasilkan bisa yang dapat membahayakan manusia.
Hewan ini memang tidak membahayakan manusia, tetapi justru aktivitas manusia yang menjadi ancaman bagi habitatnya. Sara Ruane mengatakan habitat tempat ular tersebut hidup berada di bawah tekanan industri seperti perkebunan kopi dan pertambangan.
Disampaikannya, itulah salah satu alasan penting mengapa spesies-spesies yang hidup di kawasan tersebut perlu dideskripsikan dan dikenali. Dengan mengetahui keberadaan setiap spesies, ilmuwan dapat lebih memahami bagaimana ekosistem bekerja dan bagaimana setiap bagian di dalamnya saling terhubung.
Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.