Jumlah tersebut mencakup personel yang diperlukan untuk mengoperasikan kapal beserta sistem pendukungnya. Kapal juga memiliki fasilitas komando dan pengendalian sehingga dapat berfungsi sebagai pusat koordinasi dalam sebuah operasi.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu alasan kapal dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk operasi pertahanan, tetapi juga untuk misi kemanusiaan.
Bisa menjadi kapal pendukung bencana
Menariknya, keberadaan KRI Sriwijaya nantinya tidak hanya diarahkan untuk kepentingan tempur.
Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut akan dioptimalkan untuk OMSP, termasuk penanganan bencana alam dan distribusi logistik. Dengan dek penerbangan dan kapasitas angkut yang besar, kapal dapat menjadi salah satu sarana pendukung ketika terjadi bencana di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Fungsi tersebut cukup relevan bagi Indonesia yang memiliki wilayah kepulauan luas dan kerap menghadapi bencana seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor hingga erupsi gunung berapi.
Dari Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya
Setelah lebih dari empat dekade digunakan oleh Italia, kapal ini kini memasuki babak baru bersama Indonesia.
Kapal mulai dibangun pada 1978 dan resmi diluncurkan pada 1983. Setelah puluhan tahun digunakan Angkatan Laut Italia, kapal tersebut kemudian diberikan kepada Indonesia melalui skema hibah antarpemerintah. Komisi I DPR RI sebelumnya telah menyetujui penerimaan hibah satu unit kapal ITS Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia.
Kapal tiba di Tanjung Priok pada 18 September 2026. Namun, hingga 21 September 2026, kapal tersebut masih dalam proses menuju status resmi sebagai KRI. Serah terima dan pergantian bendera menjadi Merah Putih dijadwalkan berlangsung pada 24 September, sekaligus mengukuhkan nama KRI Sriwijaya.
Dengan panjang lebih dari 180 meter, bobot sekitar 13.850 ton, kecepatan maksimum 30 knot dan kemampuan mengoperasikan berbagai jenis pesawat maupun helikopter, KRI Sriwijaya akan menjadi kapal dengan kemampuan yang berbeda dibandingkan sebagian besar kapal perang yang selama ini dioperasikan TNI AL.
Kehadirannya juga membuka babak baru bagi kemampuan TNI AL dalam menjalankan operasi di wilayah laut Indonesia, termasuk ketika kapal perang tidak hanya dituntut untuk menjaga pertahanan, tetapi juga hadir membawa bantuan saat terjadi bencana.