Selain itu, jelas dia, juga terdapat 3 guru dan satu pegawai Tata Usaha yang mengeluhkan gejala keracunan. Marsih mengaku dirinya juga mengalami gejala keracunan.

"Gurunya ada 3, TU satu (mengalami gejala keracunan). Kebetulan saya sendiri juga tadi habis ngajar saya juga diare. Maka terus saya mendahului pulang sebentar, terus ke sini lagi," ungkapnya.

Kemudian terdapat 26 siswa yang hari ini izin tidak masuk sekolah karena sakit. Namun belum terkonfirmasi, 26 anak tersebut apakah juga mengalami gejala keracunan.

Marsih mengatakan, dugaan keracunan itu diduga dari menu MBG yang disantap siswa pada Kamis (20/8) kemarin. Pagi tadi pihak sekolah mendapat laporan dan keluhan dari para siswa, bahwa mereka mengeluhkan sakit perut dan diare.

Menu yang disajikan pada Kamis kemarin yakni nasi putih, sop berisi makaroni, jamur, wortel, ayam iris. Lalu lauknya tahu pong dan buah kelengkeng.

Pihak sekolah kemudian melaporkan dugaan keracunan itu ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siswodipuran 2 yang menyuplai MBG ke sekolah tersebut. Dari SPPG yang melapor ke Dinas Kesehatan.

Pihak sekolah selanjutnya juga melapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali. Petugas medis dari Puskesmas Boyolali I kemudian mendatangi SMPN 6 Boyolali dan melakukan pemeriksaan kesehatan kepada siswa yang sakit.

Marsih menduga, keracunan itu berasal dari jamur dan ayamnya. Karena muncul bau dari menu tersebut.

"(Kondisi menu MBG kemarin) Yang agak itu jamur sama ayamnya. Ayam agak bau, ada baunya sama jamurnya. Jamurnya rasanya, kalau saya kemarin enggak begitu merasakan ya. Karena saya juga makan testernya, sebenarnya. Itu kan dikasih tester satu renteng. Lah, itu kan dikonsumsi guru dulu," terangnya.

"Nanti kalau misalkan mencurigakan baru tidak dibagikan. Nah, kebetulan kemarin saya mengonsumsi enggak apa-apa," sambung dia.