Indonesia tetap perlu menambah pasokan energi untuk mendukung pembangunan. Rumah tangga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan kegiatan usaha membutuhkan energi. Namun, setiap tambahan pasokan perlu disertai upaya mengurangi pemborosan.

Gagasan steady-state dapat digunakan untuk menilai arah pembangunan tersebut. Apakah investasi membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya? Berapa banyak energi yang diperlukan? Apakah penggunaan sumber daya dan dampak lingkungannya dapat dipertahankan dalam jangka panjang?

Penghematan energi memiliki hubungan erat dengan ketahanan pasokan. Dalam ASEAN Energy Security Review, Badan Energi Internasional (IEA) menjelaskan bahwa efisiensi dan pengelolaan permintaan dapat menekan pertumbuhan kebutuhan energi, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan kemampuan sistem dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan.

Jika perjalanan yang sama membutuhkan bahan bakar yang lebih sedikit, jumlah pasokan yang harus diamankan pun menjadi lebih kecil. Pengadaan dan penyimpanan tetap diperlukan, tetapi penghematan membantu mengurangi besarnya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Meski demikian, kendaraan yang lebih hemat belum tentu membuat konsumsi bahan bakar nasional serta-merta turun. Konsumsi total tetap dapat meningkat jika jumlah kendaraan dan jarak perjalanan bertambah lebih cepat daripada tingkat penghematannya.

Oleh karena itu, pemerintah perlu membaca dua ukuran secara bersamaan. Pertama, penggunaan bahan bakar untuk setiap kilometer perjalanan. Kedua, jumlah total bahan bakar yang digunakan seluruh kendaraan. Penurunan ukuran pertama belum menjamin penurunan pada ukuran kedua.

Prinsip yang sama berlaku pada sektor industri. Mesin dapat menggunakan lebih sedikit energi untuk menghasilkan satu unit barang. Namun, total penggunaan energi seluruh pabrik masih dapat bertambah ketika jumlah produksi meningkat.

Di sinilah efisiensi berbeda dari steady-state. Efisiensi mengukur energi yang diperlukan untuk menghasilkan barang atau melakukan kegiatan tertentu. Sementara itu, steady-state memeriksa penggunaan sumber daya secara keseluruhan. Dalam pemikiran Daly, teknologi yang semakin hemat tetap perlu disertai pengendalian jumlah total sumber daya yang digunakan.

Keberlanjutan juga perlu dinilai secara terpisah dari asal pasokan. Energi yang berasal dari dalam negeri memang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pemasok luar. Namun, kita tetap harus memeriksa sumber daya yang berkurang, limbah yang dihasilkan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Daly menekankan bahwa penggunaan sumber daya terbarukan perlu mengikuti kemampuan regenerasinya. Penggunaan sumber daya tak terbarukan perlu diimbangi dengan pengembangan energi pengganti, sementara limbah harus tetap berada dalam batas kemampuan lingkungan untuk menyerapnya. Prinsip ini memberikan dasar kuat untuk menilai ketahanan energi dalam jangka panjang.

Indonesia dapat membawa pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam evaluasi investasi. Sebelum menentukan tambahan kapasitas, pemerintah perlu menetapkan kebutuhan utama yang ingin dipenuhi, lalu membandingkan beberapa alternatif cara untuk memenuhinya.