Dalam sektor transportasi, misalnya, kebutuhan utamanya adalah mobilitas perjalanan masyarakat. Penilaian investasi dapat berfokus pada jumlah orang yang dapat bepergian, waktu tempuh, ongkos, dan penggunaan energi. Ukuran-ukuran tersebut membantu membandingkan manfaat antara pembangunan jalan, perbaikan angkutan umum, dan pilihan transportasi lainnya.
Perencanaan pasokan juga perlu menggunakan beberapa skenario. Sebagai contoh pengujian, satu skenario dapat menggunakan pola perjalanan saat ini. Skenario lain memasukkan asumsi angkutan umum yang lebih baik, kendaraan yang lebih hemat, serta peningkatan penggunaan kendaraan listrik.
Setiap skenario perlu menjelaskan asumsi dan rincian biayanya. Penggunaan kendaraan listrik, misalnya, harus masuk dalam perhitungan kebutuhan listrik secara nasional. Penilaian harus melihat perubahan kebutuhan energi secara keseluruhan, bukan berhenti pada berkurangnya pembelian bensin semata.
Hasil perhitungan ini akan membantu menentukan pilihan investasi. Jika kebutuhan bahan bakar tetap tinggi, tambahan kemampuan pengolahan dan penyimpanan memang diperlukan. Namun, jika sebagian kebutuhan dapat dikurangi melalui perbaikan sistem transportasi, pilihan itu perlu dinilai secara setara bersama biaya penambahan pasokan.
Pengujian skenario juga harus mencakup potensi gangguan. Misalnya, jika pengiriman bahan bakar dari satu pemasok terlambat selama dua pekan, berapa lama perjalanan pekerja, pengiriman pangan, dan kegiatan usaha masih dapat berlangsung? Apakah tersedia pilihan pengganti? Seberapa cepat pasokan dapat dipulihkan?
Dengan pendekatan ini, ketahanan energi dinilai dari kemampuan menjaga keberlangsungan kegiatan masyarakat. Jumlah stok tetap penting, tetapi nilai manfaat dari stok tersebut sangat bergantung pada besarnya kebutuhan dan kemampuan menyalurkannya.
Anggaran dan insentif selanjutnya dapat mengikuti hasil evaluasi tersebut. Setiap usulan investasi perlu menunjukkan kebutuhan yang dipenuhi, biaya bagi masyarakat, perubahan konsumsi energi, serta dampak lingkungan sepanjang masa penggunaannya.
Pengurangan konsumsi tetap harus menjaga aksesibilitas masyarakat. Masyarakat tidak boleh kehilangan kemampuan bekerja hanya karena tidak memiliki pilihan sarana perjalanan. Rumah tangga juga tetap membutuhkan energi untuk penerangan dan peralatan sehari-hari. Penghematan dilakukan dengan membenahi cara memenuhi kebutuhan, bukan dengan mengeliminasi kebutuhan tersebut dari perhitungan.
Prinsip steady-state memberikan dasar untuk memeriksa apakah peningkatan kualitas hidup harus selalu diiringi oleh kenaikan penggunaan sumber daya. Bagi Indonesia, pertanyaan ini dapat melengkapi upaya memperkuat produksi, cadangan, dan distribusi energi.
Bagi masyarakat yang berangkat bekerja, hasilnya terasa konkret: sarana transportasi tersedia, ongkos terjangkau, dan pekerjaan tetap dapat dijangkau bahkan saat terjadi gangguan pasokan. Jika perjalanan tersebut membutuhkan lebih sedikit energi, jumlah bahan bakar yang harus diamankan ikut berkurang. Di situlah ketahanan energi dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan.
Rinaldi. Mahasiswa Doktoral di University of Dundee, Skotlandia.