Sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam tulisan Abul Syukur al-Azizi, Salman mengusulkan taktik pembuatan parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan Kota Madinah.

Strategi parit ini diadopsi dari kebiasaan militer di Persia saat menghadapi gempuran pasukan berkuda. Pada zaman itu, taktik benteng parit sama sekali belum pernah dikenal dalam tradisi peperangan bangsa Arab, yang umumnya mengandalkan teknik serang-bertahan, gerilya, atau gempur terbuka.

Rasulullah SAW menyetujui ide brilian tersebut dan langsung merancang peta penggalian dari batas utara hingga selatan Madinah. Pasukan muslim dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil: setiap 10 prajurit diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter, dengan lebar 4,62 meter dan kedalaman 3,234 meter.

Hasilnya luar biasa. Dalam waktu sekitar 6 hingga 10 hari, umat Islam berhasil merampungkan parit raksasa sepanjang 5.544 meter. Parit ini menjadi rintangan tak menembus yang menghentikan laju kuda dan prajurit musuh di luar garis batas Kota Madinah.