Pada seluruh peserta yang mengalami gangguan suara, baik disertai gangguan pendengaran maupun tidak, terdapat peningkatan kemungkinan sebesar 29 persen untuk mengalami demensia atau gangguan kognitif. Sementara peserta yang hanya mengalami gangguan pendengaran memiliki risiko 27 persen lebih tinggi.

“Kami menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya mengalami gangguan pendengaran,” kata Sataloff.

Contoh gangguan suara antara lain laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi pita suara, serta disfonia spasmodik (distonia laring), menurut Cleveland Clinic.

Terlepas dari kemungkinan hubungan antara gangguan suara dan demensia, para peneliti mencatat bahwa mencari pengobatan untuk gangguan suara juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak.