NADIKABAR.COM — Penelitian terbaru dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia menunjukkan bahwa gangguan suara, termasuk perubahan pada tinggi rendahnya nada, volume, atau kejernihan suara, dapat mengindikasikan kemungkinan lebih tinggi seseorang mengalami demensia atau gangguan kognitif.

“Kami menemukan hubungan paling kuat dengan demensia pada pasien yang mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran,” kata Robert Sataloff, profesor sekaligus ketua di Drexel University College of Medicine, dikutip laporan New York Post yang siar pada Minggu (4/10) waktu setempat.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Voice itu melibatkan 833.417 peserta berusia 50 tahun ke atas meneliti hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, atau keduanya dengan kemungkinan mengalami gangguan kognitif atau demensia, termasuk penyakit Alzheimer.

Penilaian dilakukan mulai satu tahun setelah peserta didiagnosis mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif di kemudian hari. Sementara itu, peserta yang mengalami gangguan suara sekaligus gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 104 persen lebih tinggi.