Dengan demikian, penyusunan program pemenuhan gizi tidak bisa disamaratakan. Misalnya pada daerah Jakarta dan Jawa Tengah akan memiliki menu gizi seimbang yang berbeda.

"Jadi kalau menu bagi anak SD misalnya nih, ada di kami di buku laporan kami, regional Sumatra 1, gulainya pakai gulai ikan talang. Jadi yang memang jadi menu di daerah tersebut ya," kata Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Dr dr Brian Sri Prahastuti.

Sebagai solusi, SEAMEO RECFON telah menyusun Panduan Gizi Berbasis Pangan Lokal dengan pendekatan linear programming menggunakan WHO Optifood. Panduan tersebut merancang menu makanan padat gizi selama 7 hari untuk tiap daerah guna menutup kesenjangan asupan zat gizi mikro.

"Sekaligus menerjemahkannya menjadi rekomendasi menu padat gizi untuk mengisi kesenjangan asupan zat gizi tersebut. Temuan ini relevan untuk memperkuat program makanan bergizi gratis dan penguatan edukasi gizi di tingkat sekolah," kata Rini.

Rini menegaskan temuan dalam hasil penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai bahan evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya penelitian sudah dilakukan jauh sebelum MBG berjalan.