Dr Chan menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga baru menunjukkan korelasi atau hubungan tim redaksi data, bukan bukti sebab-akibat langsung. Ada faktor-faktor lain yang masih perlu dipelajari. Mulai dari keterbatasan data riwayat infeksi bakteri Helicobacter pylori atau bakteri pemicu utama gangguan lambung, serta riwayat medis keluarga peserta.
Meski begitu, para peneliti menduga ada beberapa mekanisme biologis dalam tubuh yang dipicu oleh minuman manis hingga berpotensi memicu sel kanker.
"Beberapa mekanisme mendasar yang diusulkan tim redaksi lain kenaikan berat badan, resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon steroid, peradangan (inflamasi), kerusakan DNA, hingga ketidakseimbangan mikrobioma usus (dysbiosis)," terang tim peneliti.
"Namun, mekanisme pasti dari efek karsinogenik minuman manis ini masih perlu diselidiki lebih lanjut melalui studi masa depan," pungkas mereka.