NADIKABAR.COM — Pelarian K (22), terduga pelaku KDRT sadis di Padaherang, Kabupaten Pangandaran, berakhir di tangan polisi. Pria ini diciduk jajaran Satreskrim Polsek Padaherang setelah sempat dilarikan ke klinik karena mencoba mengakhiri hidup.

K sebelumnya harus menjalani perawatan medis di Klinik Puspa Kalipucang. Ia dikabarkan nekat menelan racun tikus tak lama setelah diduga menganiaya istrinya sendiri, TN (21). Insiden berdarah ini terjadi pada Rabu (19/8/2026) subuh, sekitar pukul 04.00 WIB.

Plt. Humas Polres Pangandaran, Aiptu Yusdiana, membenarkan penangkapan tersebut. Saat ini, K sudah diamankan pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kejadian pada hari Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Sekarang, terduga pelaku sudah kami amankan," ujar Yusdiana kepada sejumlah wartawan di Mapolres Pangandaran, Kamis (20/8/2026) siang.

Informasi yang dihimpun di lapangan, prahara rumah tangga ini dipicu oleh cekcok hebat. Dalam kondisi gelap mata, K diduga tega menghantam kepala istrinya menggunakan palu.

Usai melakukan aksi kekerasan tersebut, K diduga panik dan mencoba bunuh diri dengan meminum racun tikus. Beruntung nyawanya masih tertolong setelah sempat ditangani tim medis di Klinik Puspa Kalipucang sebelum akhirnya digelandang petugas.

Di sisi lain, keluarga korban bergerak cepat dengan melaporkan kejadian ini ke Polsek Padaherang. Korban TN sendiri sempat dievakuasi ke Puskesmas Sindangwangi dan sebuah klinik di Desa Maruyungsari untuk pertolongan pertama.

Namun, karena luka yang diderita cukup serius dan membutuhkan penanganan spesialis, korban akhirnya dirujuk ke fasilitas kesehatan di wilayah Sidareja, Kabupaten Cilacap.

"Untuk kondisi korban sekarang masih dalam penanganan medis," kata Yusdiana.

Hingga saat ini, polisi masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Polsek Padaherang terus bekerja untuk mengungkap motif utuh di balik aksi kekerasan pasangan muda yang telah dikaruniai satu anak perempuan ini.

Kepala Desa Bojongsari, Yaya Sutiawan, mengungkapkan bahwa sebelum insiden berdarah itu terjadi, pasutri tersebut memang terlibat pertengkaran mulut yang cukup panas.

"Awalnya cekcok. Mungkin sesaat sebelum kejadian suasananya agak panas. Kemudian cekcok itu dibuntuti tindakan kekerasan," ujar Yaya.

Yaya menduga, faktor ekonomi dan api cemburu menjadi pemantik utama konflik di rumah tangga warganya itu. Meski begitu, ia menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian untuk mengungkap pemicu pastinya.

"Awalnya cekcok. Mungkin sesaat sebelum kejadian suasananya agak panas. Kemudian cekcok itu dibuntuti tindakan kekerasan," ujar Yaya.