Radang gusi biasanya ditandai dengan gusi yang memerah, membengkak, terasa nyeri, atau berdarah saat menyikat gigi. Jika dibiarkan, penyakit gusi dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius dan disertai bau mulut serta rasa tidak enak di dalam mulut.
Dalam kondisi ini, menyikat gigi saja belum tentu cukup. Pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan perawatan yang sesuai.
4. Mulut kering membuat bakteri lebih mudah berkembang
Air liur memiliki peran penting dalam membersihkan rongga mulut, membantu menelan, dan menjaga keseimbangan lingkungan di dalam mulut. Ketika produksi air liur berkurang, sisa makanan dan bakteri lebih mudah menumpuk sehingga napas dapat berbau tidak sedap.
Mulut kering atau xerostomia dapat dipicu oleh kurangnya asupan cairan, kebiasaan bernapas melalui mulut, serta efek samping obat tertentu. Beberapa obat alergi, antidepresan, dan obat tekanan darah juga dapat mengurangi produksi air liur pada sebagian orang.
Untuk membantu mengatasinya, seseorang dapat mencukupi kebutuhan cairan dan mengunyah permen karet bebas gula jika tidak memiliki kondisi yang membuatnya perlu menghindari kebiasaan tersebut. Jika mulut terus terasa kering, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
5. Makanan dan kebiasaan sehari-hari memengaruhi bau napas
Bau mulut juga bisa muncul setelah mengonsumsi makanan dengan aroma kuat, seperti bawang putih, bawang merah, petai, atau jengkol. Aroma tersebut dapat bertahan meskipun gigi sudah disikat karena sebagian senyawa penyebab bau dapat memengaruhi napas dari dalam tubuh.
Selain makanan, merokok juga dapat menyebabkan bau napas sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan gigi dan gusi. Kebiasaan berpuasa atau menjalani diet ketat juga dapat memicu bau mulut pada sebagian orang.
Menjaga kebersihan mulut tetap penting, tetapi menghindari pemicu tertentu dan memperbaiki kebiasaan sehari-hari juga dapat membantu mengurangi masalah tersebut.