"Pakai sunscreen benar-benar dobel-dobel, harus touch up (pakai ulang) berkali-kali. Terus pakai sarung tangan, pakai jaket, minum. Benar-benar rapat," jelasnya.
Hal senada juga disampaikan warga Kota Semarang lainnya, Dinda (25). Dinda yang pernah tinggal di Bali mengatakan panas di Semarang terasa lebih menyiksa.
"Di Bali memang terkenal panas, cuma di sini itu panasnya lebih menyiksa. Biasanya aku minum sehari 3 liter. Sekarang aku bisa minum 4 liter lebih," ucap Dinda.
"Karena ini saking panasnya aku dehidrasi terus. Minimal aku minum minuman berenergi atau minuman ion sehari karena ini panas banget," ujarnya.
Dinda juga mengaku berusaha menghindari aktivitas di luar ruangan pada tengah hari. Dia memilih tidak keluar tim redaksi pukul 12.00-13.00 WIB kecuali dalam kondisi mendesak.
"Sudah dari lama banget terasa panasnya terik, mulai Mei, Juni, Juli, tapi akhir-akhir ini memang panas banget. Anginnya juga panas banget," ungkapnya.
Dia mengaku pernah drop hingga nyaris pingsan akibat panas. Kondisi tersebut membuatnya harus lebih memperhatikan pola hidup dan kondisi tubuh.
"Pernah banget seperti mau pingsan karena panas. Aku sudah pakai AC di kos, aku pakai kipas, dan anginnya pun nggak berasa dingin, saking panasnya. Jadi AC-nya juga bekerja berat," tuturnya.