NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mengatasi masalah sampah yang sudah dalam kondisi darurat. Lewat strategi tersebut, Zulhas optimistis persoalan sampah di Indonesia bisa diselesaikan pada 2029.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju. Apalagi, selama ini penanganan sampah di Indonesia dinilai belum maksimal.

"Sampah ini 81 tahun nggak selesai. Ya, Pak Presiden mengatakan kalau kita sampah aja nggak bisa mengatasi gimana kita mau ngomong negara maju," kata Zulhas kepada NadiKabar dalam acara Zulhas Bikin Jelas, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan pengelolaan sampah dibagi dalam sejumlah kategori, yakni darurat dan menengah. Dia menjelaskan kategori darurat mencakup sampah yang dikelola secara open pit atau ditumpuk hingga menggunung.

"Yang darurat itu apa? Yang darurat itu yang open pit yang terbuka, seperti di Bantar Gebang. Itu sampah dari mana-mana ditumpuk lama-lama menggunung," jelasnya.

Menurutnya, saat ini hampir setiap daerah memiliki masalah sampah kategori darurat. Padahal, sudah ada aturan yang mengatur bahwa pembuangan sampah secara open pit tidak boleh dilakukan.

"Kira-kira ada 24 sampai 30 (lokasi masuk kategori sampah darurat). Misalnya Bantar Gebang Bekasi, di Bandung, Tangerang Selatan, Surabaya. Besar-besar lah. Itu ada antara 24 sampai 30 lebih," ungkapnya.

Dia optimistis masalah sampah tersebut bisa diselesaikan dalam dua tahun. Nantinya, sampah-sampah tersebut bakal diolah menjadi bioenergi.

"Yang darurat ini kita akan selesaikan dalam 2 tahun. Tahun 2027 separuh selesai, tahun 2028 separuh lagi selesai," jelasnya.

Zulhas mencontohkan penanganan sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Nantinya, sampah di lokasi tersebut bakal diolah menjadi energi listrik. Sampah yang diolah mencapai 1.500 ton per hari.

Menurutnya, jika pengelolaan tersebut dimaksimalkan, dalam setahun sampah yang diolah bisa menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan 100 ribu rumah.

"Setahun kan. Jadi bisa selesai tuh. 500 ribu ton selesai. Itu bisa mengaliri listrik 100 ribu rumah," ungkapnya.

Menurutnya, pengelolaan sampah tersebut juga bisa memberikan efek domino positif terhadap perekonomian. Sebab, pengelolaannya dapat menyerap tenaga kerja hingga ribuan orang dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun di satu tempat.

"(Sampah) ya kan tadinya membuat penyakit. Sekarang malah itu bisa memberikan manfaat. Jadi bisa memberikan aliran listrik kepada lebih dari 100 ribu rumah. Bisa mempekerjakan orang mungkin ribuan. Bisa melakukan investasi kira-kira Rp 3 triliun satu tempat," tutupnya.