Ditya mengatakan, terdapat sejumlah kejanggalan yang sebenarnya dapat dikenali secara kasat mata dalam video tersebut.

"Jika dilihat dari kasat mata, banyak kejanggalan dari video tersebut. Namun, ternyata banyak yang memberikan respons positif terhadap unggahan video tersebut di Facebook. Artinya mungkin masih ada yang menganggap video tersebut benar," ujar dia.

Menurut Ditya, adanya respons positif terhadap unggahan video itu menunjukkan bahwa masyarakat perlu semakin memahami perkembangan teknologi AI. Dia mengatakan, teknologi AI kini memungkinkan pembuatan konten yang menyerupai sosok tertentu sehingga berpotensi disalahgunakan untuk penipuan.

"Semoga dengan adanya sosialisasi dari kami, dapat memberikan pencerahan terutama bagi para pengguna Facebook yang rata-rata di usia boomer, gen X, dan early gen Y, bahwa teknologi AI sekarang sudah berkembang sedemikian rupa dan patut diwaspadai," jelasnya.