Meski begitu, menurutnya program MBG tak perlu disetop. Ia menilai program itu akan berjalan baik jika penanganannya juga baik.
"Kalau saya bukan disetop, asal bisa menangani yang baik sebetulnya enggak perlu disetop," kata Sultan.
Sultan menilai kasus keracunan tersebut bukan terjadi karena kesengajaan, melainkan lebih kepada kelalaian dalam proses penyimpanan dan pengolahan makanan.
"Harus menyediakan stok tiga hari, sehari misalnya 10 kilo berarti 30 kilo. Harus dimasukkan freezer. Kalau dia punya kulkas, besarnya kulkas berapa? Apakah mampu untuk menampung daging yang 30 atau 50 kilo misalnya," jelasnya.
"Soalnya saya seneng masak jadi ngerti. Nek bapak-bapak ning kok dapur aja nyerahke karo ibu, enggak pernah masak, ya enggak ngerti kondisi seperti itu," pungkasnya.
Diketahui, Sultan pernah mengingatkan pengelola dapur MBG agar mengubah pengelolaan untuk mencegah keracunan berulang. Hal itu ia sapaikan dalam pidatonya di acara gerakan pangan murah di DPKP DIY September tahun lalu.
Sultan menyinggung tentang sayur yang dimasak pada dini hari. Hal itu dinilai berpotensi menyebabkan keracunan.
"Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan? Nggak usah menggunakan orang kimia gitu, sudah. Masaknya jam setengah 2 pagi, dimakan jam 08.00 saja sudah mesti wayu (basi). Udah. Itu airnya disendok begini sudah mulur itu. Udah itu pasti," kata Sultan dalam sambutannya di DPKP DIY, Jumat (26/9/2025).
Sultan menambahkan, jika pola yang digunakan dalam penyajian makanan di program MBG tidak dievaluasi, maka kemungkinan kasus keracunan akan terus muncul.
"Korban itu tidak akan berkurang selama pola masak-pola masaknya tidak berubah, gitu," tegas Sultan.