Maksum mengaku, salah satu kendala yang masih dihadapi hingga saat ini adalah proses distribusi serta ketersediaan bahan baku.

Bagi usaha dengan kapasitas produksi hingga satu ton per hari, kelancaran pasokan bahan baku menjadi faktor penting agar proses produksi tidak terganggu. Begitu pula dengan distribusi, karena produk harus dikirim ke berbagai daerah dengan kondisi tetap baik ketika sampai di tangan konsumen.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Maksum tidak ingin berhenti pada pasar domestik.

Ia memiliki harapan agar usaha yang telah dirintis selama lebih dari 20 tahun tersebut dapat berkembang lebih besar dan mampu menembus pasar internasional.

Menurutnya, fasilitasi untuk membuka akses ekspor sangat dibutuhkan oleh pelaku UMKM. Dengan masuk ke pasar luar negeri, produk-produk lokal tidak hanya memiliki pasar yang lebih luas, tetapi juga berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

"Saya berharap produksi sumpia ini bisa terus berkembang. Kalau bisa, kami difasilitasi untuk ekspor supaya UMKM bisa bersaing di pasar luar negeri," harapnya.

Harapan itu menjadi gambaran bahwa di balik camilan sederhana terdapat mimpi besar seorang pelaku usaha.

Dari sebuah usaha yang dirintis sejak tahun 2000 di Kecamatan Talun, sumpia udang kini mampu diproduksi hingga satu ton sehari dan dikirim ke berbagai kota di Indonesia.

Sumpia yang berukuran kecil itu pun membawa cerita yang jauh lebih besar tentang ketekunan, pemberdayaan masyarakat, dan harapan agar produk UMKM Kabupaten Cirebon suatu hari mampu berdiri sejajar di pasar global.