"Kalau buat mandi sama nyuci sih ya ke sungai, soalnya kondisi sumur juga kering," tuturnya.
Namun menggunakan air sungai dan irigasi bukan tanpa risiko. Siti mengaku terkadang mengalami gangguan kesehatan pada kulit setelah menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kalau lagi kena, ya paling penyakit kulit semacam gatal-gatal. Daripada harus beli air isi ulang buat mandi atau nyuci kan boncos juga," katanya.
Bagi warga seperti Wahyu dan Siti, kemarau bukan sekadar tentang panas yang menyengat pada siang hari. Kemarau telah mengubah rutinitas dan memaksa mereka menghitung setiap tetes air yang digunakan.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi salah satu harapan warga yang wilayahnya terdampak kekeringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat krisis air bersih mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Hingga Selasa (1/9/2026), BPBD telah menyalurkan sebanyak 65.000 liter air bersih kepada 3.031 kepala keluarga atau sekitar 10.095 jiwa.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan bantuan air bersih tersebut disalurkan ke empat kecamatan yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kecamatan Klangenan menjadi wilayah dengan jumlah penerima bantuan terbesar. Sebanyak 37.000 liter air bersih telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan 2.063 kepala keluarga atau 7.104 jiwa.
Selanjutnya, Kecamatan Sedong mendapatkan bantuan sebanyak 20.000 liter untuk 485 kepala keluarga atau 1.610 jiwa.
Sementara di Kecamatan Talun, BPBD telah menyalurkan 4.000 liter air bersih yang diperuntukkan bagi 365 kepala keluarga atau 620 jiwa.
Adapun Kecamatan Gegesik menerima pasokan 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan 118 kepala keluarga atau 761 jiwa.