Syamsul mengatakan pendistribusian bantuan dilakukan secara terukur agar air bersih benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Pendataan dilakukan untuk memastikan lokasi, jumlah kepala keluarga dan kebutuhan air di lapangan sesuai dengan kondisi sebenarnya," ujarnya.
Menurutnya, BPBD menerapkan sejumlah tahapan dalam penyaluran bantuan air bersih. Proses dimulai dari pendataan dan verifikasi lokasi terdampak, pengisian air ke armada tangki, pengiriman ke titik distribusi, penyaluran kepada masyarakat hingga monitoring dan evaluasi.
Setelah data kebutuhan diverifikasi, BPBD menyiapkan pasokan air bersih ke dalam armada tangki untuk kemudian dikirim sesuai jadwal dan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Setiap proses distribusi juga dilakukan pencatatan dan evaluasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BPBD untuk memantau kondisi di lapangan sekaligus menentukan kebutuhan bantuan berikutnya.
Syamsul menegaskan, BPBD Kabupaten Cirebon akan terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan.
Langkah itu dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan meluasnya krisis air bersih apabila musim kemarau terus berlangsung.
"BPBD berkomitmen melayani masyarakat secara cepat, tanggap dan profesional, terutama dalam menghadapi kebutuhan air bersih di wilayah terdampak," katanya.
Bagi warga Desa Sampiran, bantuan air bersih tentu menjadi penopang di tengah sulitnya mendapatkan sumber air. Sebab, ketika sumur telah mengering dan sungai menjadi pilihan terakhir untuk mandi serta mencuci, air bukan lagi sekadar kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kemarau yang belum berakhir, setiap galon yang dibeli, setiap ember yang ditampung, hingga setiap perjalanan menuju sungai menjadi gambaran perjuangan warga untuk memenuhi satu kebutuhan paling mendasar untuk bisa mendapatkan air.