Pencapaian tersebut, menandai perjalanan perusahaan dalam memperluas adopsi energi surya di sektor komersial dan industri sekaligus menjadi fondasi bagi fase pertumbuhan berikutnya sebagai mitra elektrifikasi bagi industri di Indonesia.

Sejak didirikan pada 2016, kata dia, SUN berkembang bersama meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi yang lebih efisien, rendah karbon, dan andal.

Portofolio SUN saat ini mencakup proyek di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, termasuk pada sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, dan farmasi.

Lebih dari sekadar kapasitas terpasang, pertumbuhan portofolio tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan energi bersih sebagai bagian dari strategi efisiensi dan daya saing industri.

Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO2 per tahun, setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.

"Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing," katanya.