NADIKABAR.COM — Perusahaan pengembang pembangkit tenaga surya, SUN memperluas perannya sebagai independent power producer (IPP) untuk mendukung pengembangan energi bersih dan diharapkan memperbesar kontribusi sektor swasta dalam pengembangan 100 gigawatt (GWp) energi surya di Indonesia.
"Kami ingin membawa pengalaman perusahaan lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya," kata Director of Power SUN Jefferson Kuesar dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan bahwa perusahaan ingin memperkuat pengembangan PLTS berskala besar guna dukung program pemerintah terkait PLTS 100 GWp.
Menurut dia, SUN juga memperkuat pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar sebagai bagian dari agenda pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Apalagi, kata dia, Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp, yang membuka ruang besar bagi pengembangan PLTS untuk sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar.
"Saat ini, SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan masih berada dalam tahap pengembangan," ujarnya.
Selain itu, memasuki satu dekade perjalanan di industri energi bersih, SUN telah mengembangkan lebih dari 500 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek.
Pencapaian tersebut, menandai perjalanan perusahaan dalam memperluas adopsi energi surya di sektor komersial dan industri sekaligus menjadi fondasi bagi fase pertumbuhan berikutnya sebagai mitra elektrifikasi bagi industri di Indonesia.
Sejak didirikan pada 2016, kata dia, SUN berkembang bersama meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi yang lebih efisien, rendah karbon, dan andal.
Portofolio SUN saat ini mencakup proyek di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, termasuk pada sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, dan farmasi.
Lebih dari sekadar kapasitas terpasang, pertumbuhan portofolio tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan energi bersih sebagai bagian dari strategi efisiensi dan daya saing industri.
Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO2 per tahun, setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.
"Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing," katanya.
Memasuki fase berikutnya, SUN memperluas solusi dari pengembangan energi surya menuju sistem elektrifikasi yang lebih terintegrasi.
Solusi tersebut lanjut dia, mencakup PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mendukung pengelolaan energi dan armada.
Dia menambahkan ke depan, perusahaan akan memperkuat pengembangan aset energi bersih dan elektrifikasi untuk sektor-sektor strategis.
Melalui integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital, SUN berupaya membantu pelanggan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan energi, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Untuk mempercepat implementasi, kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, regulator, PLN, asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, pemasok, dan EPC," katanya menambahkan.
Dengan pengalaman satu dekade mengembangkan proyek energi bersih, SUN memasuki fase pertumbuhan berikutnya dengan memperkuat perannya sebagai mitra elektrifikasi bagi industri, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan daya saing industri dan percepatan transisi energi Indonesia.