Penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai konflik antara Slemania dan Brajamusti mencatat bahwa perselisihan kedua kelompok sudah berlangsung sejak sekitar tahun 2000. Penelitian tersebut menguraikan sejumlah konflik yang terjadi dalam beberapa periode kompetisi dan menyebut atribut klub serta fanatisme sebagai salah satu faktor yang dapat memicu gesekan.

Salah satu peristiwa yang kemudian menjadi catatan kelam rivalitas tersebut terjadi pada 22 Mei 2016. Bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan seorang pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia.

Dua tahun kemudian, insiden kembali terjadi. Pada 26 Juli 2018, Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan yang berkaitan dengan laga Derbi Mataram.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa rivalitas sepak bola dapat memiliki dampak yang lebih luas ketika persaingan antarkelompok pendukung keluar dari batas pertandingan.

Upaya damai sudah dilakukan sejak lama

Persoalan rivalitas tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi aparat dan berbagai pihak di DIY.

Pada April 2018, misalnya, Polda DIY mempertemukan perwakilan suporter PSIM dan PSS dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Perwakilan Brajamusti, The Maident, Slemania dan BCS saat itu diajak membuat ikrar bersama untuk menjaga keamanan dalam pertandingan kedua tim.

Upaya serupa kembali dilakukan menjelang kompetisi 2026/2027.

Kali ini, kesepakatan tidak hanya berbicara soal pertandingan di stadion. Para suporter juga berkomitmen menjaga ketertiban lalu lintas ketika menuju dan meninggalkan stadion, tidak membawa barang berbahaya, tidak melakukan provokasi, serta menghindari narasi negatif di media sosial.

Mereka juga menyatakan tidak akan melakukan pengrusakan, penganiayaan, pembakaran, penghadangan maupun tindakan melanggar hukum terhadap pemain atau suporter lawan.

Derbi Mataram kembali hadir di Super League