Kesepakatan damai tersebut dibuat menjelang pertemuan PSIM dan PSS dalam kompetisi BRI Super League 2026/2027.

Berdasarkan jadwal resmi kompetisi, Derbi Mataram pertama musim ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Desember 2026, dengan PSIM bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Pertandingan tersebut juga menjadi bagian dari kembalinya PSS Sleman ke kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship. Sementara PSIM menjalani musim keduanya di level tertinggi setelah promosi.

Dengan kedua klub kembali berada di kompetisi yang sama, pertemuan keduanya otomatis menjadi salah satu laga yang mendapat perhatian dari publik sepak bola DIY.

Namun, soal kehadiran penonton dalam laga tersebut masih bergantung pada evaluasi keamanan. Polda DIY menyatakan keputusan teknis mengenai pertandingan akan ditentukan berdasarkan analisis dan perkembangan situasi menjelang hari pertandingan. Bahkan, dalam kesepakatan yang dibuat, klub dan suporter menyatakan siap menerima pengalihan lokasi apabila kondisi keamanan dinilai tidak memungkinkan.

Rivalitas adalah bumbu, tapi konflik adalah racun

Bagi sepak bola, rivalitas antarklub sebenarnya merupakan bagian dari daya tarik pertandingan, yang selayaknya bumbu untuk menambah citarasa entitas itu sendiri. PSIM dan PSS boleh saling bersaing untuk meraih kemenangan, begitu pula para pendukung boleh memberikan dukungan penuh kepada tim masing-masing.

Yang menjadi persoalan adalah ketika rivalitas tersebut berubah menjadi kekerasan atau konflik yang mengganggu masyarakat di luar pertandingan bak racun yang mematikan.

Karena itu, kesepakatan terbaru suporter PSIM dan PSS lebih menekankan bagaimana persaingan tetap berada dalam koridor olahraga. Perwakilan suporter PSIM Rendi Agung menyatakan pihaknya akan menjaga kondisi kelompok pendukung di akar rumput, sedangkan perwakilan Slemania Tato Indarto menyebut komitmen tersebut diperlukan untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta.

Derbi Mataram pun pada akhirnya bukan sekadar pertandingan antara dua klub dari wilayah yang berdekatan. Laga ini juga menjadi gambaran bagaimana rivalitas sepak bola bisa berkembang selama bertahun-tahun, sekaligus bagaimana berbagai pihak mencoba mengubah sejarah perseteruan menjadi persaingan yang lebih sehat.