Adapun, persoalan yang menjadi perhatian pemuda meliputi pembukaan lapangan kerja sebesar 21,6 persen, peningkatan kesejahteraan di tengah kenaikan harga kebutuhan, penjagaan stabilitas ekonomi, transparansi dan pemberantasan korupsi serta kebebasan sipil dan demokrasi.
Sementara, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai ketertarikan pemuda terhadap politik perlu dilihat bersama dengan persepsi mereka mengenai efektivitas partisipasi dalam mendorong perubahan.
"Anak-anak muda tertarik terhadap politik, tetapi tidak yakin suaranya didengar dapat menghasilkan perubahan. Akhirnya, untuk mencari perubahan itu, mereka melakukan demonstrasi," kata Lili.
Survei tersebut menunjukkan 65,9 persen responden menilai demonstrasi sebagai cara paling efektif untuk menyampaikan aspirasi. Sementara itu, kanal pengaduan resmi pemerintah dinilai efektif oleh 51,6 persen responden.
Menurut Lili, demonstrasi pemuda itu adalah bagian dari kepedulian terhadap politik itu sendiri, sehingga dapat menjadi bahan evaluasi bagi lembaga politik untuk memperluas ruang partisipasi dan memperkuat komunikasi dengan generasi muda.
Selain partisipasi politik, survei mengukur optimisme pemuda terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045. Sebanyak 54,4 persen responden optimistis target tersebut dapat tercapai, sedangkan 45,6 persen lainnya menyatakan pesimistis.