Kedua, pemerintah daerah harus menjadi motor utama gerakan masyarakat aktif dan bugar. Saya minta para gubernur, bupati, wali kota memastikan tersedianya ruang publik, fasilitas olahraga, jalur pejalan kaki dan jalur bersepeda, serta program olahraga yang mudah, murah, aman, dan inklusif.

Ketiga, olahraga harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Car Free Day harus kita manfaatkan sebagai salah satu ruang untuk membangun budaya masyarakat aktif, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Keempat, kita ukur keberhasilan bukan dari banyaknya event, tetapi dari perubahan perilaku masyarakat. Kita harus mengetahui: Berapa banyak rakyat yang aktif? Berapa banyak yang rutin berolahraga? Dan apakah tingkat kebugaran masyarakat kita meningkat? Data dan indikator harus menjadi dasar kebijakan.

Kelima, kita bangun olahraga yang inklusif dan berkeadilan. Anak-anak, pemuda, perempuan, dan laki-laki, lansia, masyarakat perdesaan dan perkotaan, serta penyandang disabilitas harus memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak dan berolahraga.

Kita ingin mengubah budaya bangsa:dari pasif menjadi aktif,dari aktif menjadi bugar.dari bugar menjadi produktif.dan dari produktif menjadi Indonesia yang semakin kuat.

Prestasi olahraga juga harus terus kita dorong. Tetapi kita harus ingat atlet juara lahir dari masyarakat yang gemar olahraga. Karena itu, budaya olahraga, prestasi olahraga, dan industri olahraga harus dibangun sebagai satu ekosistem.

Saya mengajak seluruh pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi olahraga, komunitas, keluarga, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bergerak bersama.

Tidak perlu menunggu.Tidak perlu mahal.Tidak perlu rumit.

Mulailah bergerak dari sekarang. Berjalan, berlari, bersepeda, senam bersama, atau melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan masing masing.

Karena Indonesia yang bugar tidak dibangun oleh satu kementerian Indonesia yang bugar dibangun oleh seluruh bangsa. Mari kita jadikan HAORNAS 2026 sebagai momentum perubahan Indonesia Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!