NADIKABAR.COM — Dua tahun lalu, dalam pidato pelantikannya pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun. Targetnya kemudian dipercepat menjadi tiga tahun di forum APEC Peru, lalu menjadi satu tahun dalam Sidang Kabinet Paripurna 22 Januari 2025. Ambisi itu berani, dan banyak yang meragukannya, sampai awal tahun ini data dan fakta menunjukkan kita surplus pangan strategis seperti beras dan jagung. Arah dan pemikiran Presiden Prabowo tentang pangan sesungguhnya bukan hal yang tiba-tiba.
Pangan memang menjadi konsen Prabowo Subianto sejak awal, jauh sebelum menjadi Presiden RI. Hal ini dibuktikan dengan arah kebijakan pangan dalam Manifesto Perjuangan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan buku Paradoks Indonesia dan Solusinya yang menekankan pangan adalah strategic commodity, pangan bukan sekadar economic commodity.
Kemudian Presiden Prabowo Subianto menempatkan Swasembada Pangan dalam 17 program prioritas dan 8 program hasil terbaik cepat Visi Asta Cita. Tujuan ini kemudian tertuang dalam Peraturan Presiden RI (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025-2029.
Pada momentum Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2026 ini, FAO (organisasi pangan dan pertanian dunia) mengsuung tema "Innovate today, Nourish tomorrow" atau berinovasi hari ini, memberi nutrisi untuk masa depan. Sejurus dengan itu, saatnya kita menimbang hasil dengan jernih, apa yang sudah dicapai? apa yang belum? dan apa yang harus dijaga agar swasembada tidak berhenti sebagai angka?
Data BPS dan Bapanas menunjukkan produksi beras 2025 mencapai 34,69 juta ton atau surplus 3,5 juta ton, naik 13,29 persen dari 30,62 juta ton pada 2024. Impor beras, yang pada 2024 masih sekitar 4,5 juta ton, turun menjadi nol pada 2025. Kemudian produksi jagung 2025 mencapai 16,11 juta ton (kadar air 14 persen) dengan surplus 0,47 juta ton, dan tanpa impor. Cadangan beras pemerintah per Agustus 2026 tercatat 5,24 juta ton, level tertinggi dalam sejarah stok beras nasional.
Pada Sidang Tahunan MPR 14 Agustus 2026, Presiden menyatakan Indonesia telah swasembada delapan komoditas pangan, meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Capaian ini penting karena di luar negeri krisis pangan mengintai. Perang di Timur Tengah, menurut laporan PBB, berisiko mendorong puluhan juta orang tambahan ke kelaparan akut. Sementara itu, FAO mencatat sekitar 720 juta penduduk dunia mengalami kelaparan. Stok yang tebal membuat kita punya bantalan ketika pasar dunia bergejolak.
Produksi tidak naik oleh slogan. Sejak 22 Oktober 2025, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi turun 20 persen lewat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025, disertai penyederhanaan mekanisme penyaluran. Hasilnya terlihat penyaluran pupuk subsidi 2026 meningkat. Bagi petani, pupuk adalah komponen biaya yang menentukan. Menurunkan harga sekaligus memperlancar distribusi adalah keberpihakan yang konkret.