NADIKABAR.COM — PT Syngenta Indonesia berkomitmen memberdayakan petani jagung melalui pengenalan bioteknologi benih jagung hibrida NK Sakti Series, yang mampu meningkatkan hasil panen dan efisiensi kerja.

"Melalui inovasi pertanian mutakhir pada NK Sakti Series, kami berkomitmen mendampingi petani mencapai kemandirian pangan, sekaligus menjadi penggerak utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional yang berkelanjutan," ujar National Sales Manager Seeds Syngenta Indonesia Wahyu Sampurno.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenalkan bioteknologi benih jagung hibrida tersebut, lanjut dia, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, yakni melalui ajang NK Festival 2026 di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dengan diikuti 1.500 petani jagung dari wilayah setempat.

Menurut Wahyu, Jawa Tengah memegang peranan vital bagi perekonomian pertanian nasional, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipil kering provinsi tersebut pada 2025 mencapai sekitar 3,7 juta ton, menyumbang 17,02 persen dari total produksi nasional 16,55 juta ton.

Meskipun berpotensi besar, tambahnya, para petani dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah yaitu perubahan iklim yang sulit diprediksi, penyusutan lahan produktif, serangan hama penyakit yang terus berulang, hingga kelangkaan tenaga kerja pertanian yang membuat biaya operasional membengkak.

"Tantangan struktural ini menuntut adanya teknologi tepat guna yang mampu menyederhanakan perawatan di kebun sekaligus mendongkrak hasil panen," katanya.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Syngenta Indonesia memperkenalkan portofolio unggulan benih jagung hibrida bioteknologi yaitu NK Pendekar Sakti, NK Sumo Sakti, dan NK Perkasa Sakti.

Diformulasikan khusus untuk pengendalian gulma yang lebih mudah dan perlindungan internal terhadap hama penggerek batang jagung, varietas ini memberi solusi budidaya yang efisien dengan risiko minim bagi petani.

Oleh karena itu, melalui ajang tersebut para petani dapat berdiskusi langsung dengan para ahli agronomi guna memahami performa tanaman bioteknologi.

Selain itu, hadir pula Klinik Konsultasi Hama dan Penyakit yang memberikan panduan praktis mengenai cara menekan risiko gagal panen, khususnya strategi pengendalian hama penggerek batang jagung (Asian Corn Borer/ACB).

"Melalui festival ini, para petani dibekali wawasan praktis agar dapat berinvestasi secara bijak sesuai kondisi lahan dan iklim di wilayah masing-masing," ujar Wahyu.