Pendekatan tersebut, tambahnya, menunjukkan bahwa penguatan pertanian membutuhkan keterhubungan berbagai elemen, mulai dari sumber daya genetik dan pemuliaan varietas, penelitian kesehatan tanaman, teknologi perlindungan tanaman, hingga pengetahuan dan pengalaman petani.

Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman Prof. Totok Agung Dwi Haryanto menambahkan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri memungkinkan hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik, tetapi dapat dikembangkan dan divalidasi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

"Ini penting agar inovasi yang dihasilkan semakin relevan dan dapat memberikan manfaat bagi petani,” ujarnya.

Sebelumnya dalam Indonesia Petani MAJU Summit, bagian dari rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026, tiga Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani antara Syngenta Indonesia dan WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd., Cuu Long Delta Rice Research Institute (CLRRI), serta Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).