NADIKABAR.COM — PT Syngenta Indonesia bersama WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd menggandeng lembaga riset Cuu Long Delta Rice Research Institute (CLRRI) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto untuk memperkuat inovasi padi guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Customer Business Manager Syngenta Indonesia Huy Cuong Nguyen menyatakan kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi riset dan inovasi padi, sekaligus membuka peluang untuk menghadirkan solusi yang semakin relevan dengan kebutuhan pertanian Indonesia.

"Inovasi memberikan dampak yang lebih besar ketika berbagai pihak bekerja bersama dan berangkat dari kebutuhan petani," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Dengan menghubungkan ilmu pengetahuan, sumber daya genetik, teknologi, pengalaman di lapangan, dan pemahaman terhadap kondisi lokal, menurut dia, dapat mempercepat lahirnya solusi yang memberikan nilai nyata bagi petani sekaligus mendukung ketahanan pangan Indonesia.

Dikatakannya, kemitraan dengan WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd. diarahkan pada evaluasi dan pengembangan germplasm padi hibrida berdaya hasil tinggi di Indonesia.

"Kerja sama ini membuka peluang untuk mengeksplorasi sumber daya genetik yang dapat mendukung pengembangan materi padi potensial sesuai dengan kondisi pertanian Indonesia," ujar Huy Cuong Nguyen.

Kolaborasi dengan CLRRI, difokuskan pada pengembangan germplasm padi premium, aromatik, dan berdaya hasil tinggi bagi petani dan konsumen Indonesia. Kemitraan ini juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan dan sumber daya genetik untuk mendukung pengembangan inovasi padi.

Sedangkan kemitraan dengan Universitas Jenderal Soedirman mencakup pengembangan inovasi varietas padi, penelitian kesehatan tanaman, serta validasi teknologi yang berorientasi pada kebutuhan petani.

Sementara itu International Business Manager, WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd Cherry Wang menyatakan keberhasilan inovasi pada akhirnya perlu dilihat dari nilai yang dihasilkan ketika teknologi diterapkan di lapangan.

"Inovasi harus menghasilkan nilai nyata bagi petani. Teknologi yang baik perlu dipadukan dengan pemahaman terhadap kondisi lokal agar dapat diterapkan secara efektif dan memberikan manfaat dalam skala yang lebih luas," ujarnya.

Pendekatan tersebut, tambahnya, menunjukkan bahwa penguatan pertanian membutuhkan keterhubungan berbagai elemen, mulai dari sumber daya genetik dan pemuliaan varietas, penelitian kesehatan tanaman, teknologi perlindungan tanaman, hingga pengetahuan dan pengalaman petani.

Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman Prof. Totok Agung Dwi Haryanto menambahkan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri memungkinkan hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik, tetapi dapat dikembangkan dan divalidasi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

"Ini penting agar inovasi yang dihasilkan semakin relevan dan dapat memberikan manfaat bagi petani,” ujarnya.

Sebelumnya dalam Indonesia Petani MAJU Summit, bagian dari rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026, tiga Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani antara Syngenta Indonesia dan WinAll Hi-Tech Seed Co., Ltd., Cuu Long Delta Rice Research Institute (CLRRI), serta Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).