Keputusannya berubah ketika ia sering mengunjungi sebuah kedai wanton mee di dekat rumah. Ia kemudian mengetahui bahwa pemilik kedai tersebut sedang mencari orang untuk meneruskan bisnis karena keluarganya tidak tertarik melanjutkannya.

Peluang tersebut membuat Poh Kang memberanikan diri keluar dari pekerjaan IT. Dengan dukungan ibunya, ia belajar langsung kepada pemilik kedai selama sekitar empat hingga lima bulan tanpa menerima gaji.

Setiap hari, Poh Kang beraktivitas sejak pukul 05.00. Ia membeli bahan, menyiapkan kedai, membuat pangsit wanton, hingga mempelajari cara mengolah setiap komponen dalam semangkuk wanton mee.

Salah satu keahlian yang ia pertahankan adalah membuat char siu menggunakan arang. Menurutnya, metode tersebut memang lebih sulit karena panasnya tidak mudah dikontrol, tetapi menghasilkan aroma dan rasa khas.

"Sebagian besar char siu dibuat menggunakan gas karena jauh lebih mudah. Panas dari arang lebih sulit dikontrol, tetapi memberikan cita rasa yang khas. Karena itu, saya masih ingin mempertahankan cara ini," jelasnya.

Setelah sekitar empat bulan belajar, pemilik kedai akhirnya pensiun dan Poh Kang mengambil alih usaha tersebut. Ia bahkan sudah menghabiskan sebagian besar tabungannya untuk bisnis itu sehingga tidak ada pilihan untuk mundur.

Awalnya, ia sempat cemas apakah kedai tersebut bisa menjadi sumber penghasilan yang cukup. Namun, bisnisnya perlahan mampu mencapai titik impas dan ia mulai melihat pelanggan lama kembali datang.