Bagi Poh Kang, tantangan terbesar bukan sekadar menjual sebanyak mungkin mangkuk wanton mee. Ia justru ingin memastikan setiap hidangan yang keluar dari kedainya memiliki rasa yang konsisten dan sesuai dengan harapan pelanggan.
"Anda harus mau berubah dan menerima pendapat orang lain. Kalau pelanggan memberikan masukan, kita harus mendengarkannya, kecuali mereka memang sengaja membuat masalah," katanya.
Menjadi pedagang juga membuat Poh Kang memiliki lebih banyak waktu untuk berolahraga dan memikirkan konten mengenai kedainya. Namun, kebebasan itu harus dibayar dengan berkurangnya waktu bersosialisasi karena ia harus bangun sejak pagi.
"Saya tidak bisa mengatakan pekerjaan ini tidak melelahkan. Jelas sangat menguras fisik," ujarnya sambil tertawa.
Meski sudah meninggalkan dunia IT, Poh Kang tidak menyarankan orang lain langsung resign hanya karena merasa bosan dengan pekerjaannya. Menurutnya, keputusan besar seperti itu harus disertai perencanaan yang matang.
"Jangan langsung berhenti tanpa punya rencana. Anda harus memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya, bagaimana menjalankannya, dan memiliki semacam strategi," pungkasnya.
Untuk saat ini, Poh Kang belum berniat mengembangkan kedai wanton mee miliknya menjadi jaringan besar. Ia memilih fokus membuat semangkuk wanton mee yang enak dan membuat pelanggan ingin kembali lagi.