"Saya pertama Timnas tahun '83, tapi masih cadangan. Itu SEA Games di Malaysia," kata Eddy.
Saat itu, Eddy menjadi salah satu pemain termuda dalam skuad. Ia berada satu generasi dengan sejumlah pemain senior seperti Junaedi Abdillah dan Dede Sulaiman, sementara posisi penjaga gawang utama ditempati Purwono.
Setelah perjalanan panjang sebagai pemain, Eddy kemudian menekuni dunia kepelatihan. Sebelum bergabung dengan PSGC, ia tercatat menangani Persis Solo selama lima tahun. Kontraknya bersama klub tersebut berakhir pada akhir Mei 2026.
Kini, ia menghadapi tantangan baru bersama PSGC. Eddy mengakui proses mencari penjaga gawang baru menjadi lebih sulit karena dirinya bergabung ketika banyak pemain sudah lebih dahulu direkrut klub lain.
"Kiper yang saya punya juga sudah diambil klub-klub. Jadi ketika saya kemari, sebenarnya saya terlambat untuk merekrut mereka. Sudah diambil klub lain," ungkapnya.
Karena itu, Eddy menyebut pekerjaannya bersama PSGC seperti memulai dari awal. Namun, ia tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai alasan.
"Dari nol. Tapi saya yakin, sebelum ada saya di sini, mereka juga sudah berlatih dengan pelatih-pelatih lain. Tinggal nanti saya lihat apa yang masih kurang," pungkasnya.