NADIKABAR.COM — Dulu, World Marathon Majors (WMM) identik buat mereka yang berpengalaman dan berkantong tebal. Kini, semakin banyak traveler yang menjadikan Tokyo, Berlin, hingga Sydney sebagai tujuan perjalanan berikutnya.
Fenomena itu terlihat seiring berkembangnya tren running tourism atau runcation, ketika sebuah lomba lari menjadi alasan utama seseorang bepergian ke kota atau negara lain. Bukan lagi sekadar berburu kuliner atau mengunjungi landmark ikonik, banyak traveler kini menyusun rencana perjalanan berdasarkan kalender race.
Founder Cerita Lari, Faizin Kadni atau yang akrab disapa Bang Icin, melihat perubahan itu terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, WMM yang dulu terasa jauh dan sulit dijangkau kini semakin terbuka bagi lebih banyak orang.
"Dulu menuju WMM susah. Kayaknya cuma buat yang berduit atau keuangannya sudah mapan. Sekarang bisa dapat kesempatan untuk lari di WMM lewat sponsor, kompetisi konten, dan berbagai program lainnya," kata Icin dalam perbincangan dengan NadiKabar, Sabtu (12/11/2026).
Perubahan itu membuat semakin banyak traveler Indonesia berani memasukkan WMM ke dalam daftar target mereka. Saat ini, rangkaian WMM terdiri dari tujuh ajang bergengsi, yakni Tokyo Marathon, Boston Marathon, London Marathon, Berlin Marathon, Chicago Marathon, New York City Marathon, dan Sydney Marathon yang resmi bergabung pada 2025. Cape Town menjadi kota kedelapan dalam rangkaian WMM itu.
Bagi sebagian traveler atau pelari rekreasional, mendapatkan slot untuk salah satu ajang tersebut saja sudah menjadi pencapaian tersendiri. Namun bagi yang sudah merasakan satu race, keinginan untuk menambah koleksi kota dan medali biasanya terus berlanjut.
"Rangkaian WMM ini memang seperti candu. Biasanya mulai dari satu kota, lalu lanjut ke kota lain. Sekarang tambah Sydney juga, jadi makin banyak pilihan," ujar Icin.
Icin memberikan gambaran pertumbuhan peminat WMM itu dengan menyampaikan peserta tripnya pada 2017 sekitar belasan hingga puluhan orang saja dalam satu WMM, tetapi tahun ini mencapai 100-150 orang.
Perubahan motivasi traveler juga terlihat jelas. Jika dulu orang bepergian ke luar negeri untuk melihat tempat-tempat terkenal, kini sebagian pelari memiliki alasan tambahan untuk datang ke sebuah kota.
"Dulu orang ke luar negeri pengen lihat ini, lihat itu, foto di landmark ikonik. Sekarang mereka juga ingin pulang dengan medali," kata Icin.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kalangan atlet elite. Banyak pelari rekreasional kini rela menabung dan berlatih berbulan-bulan demi bisa berdiri di garis start marathon impian mereka.
Setelah race selesai, perjalanan biasanya berlanjut dengan menjelajahi destinasi wisata, mencoba kuliner lokal, hingga mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya mereka lihat di media sosial.
Icin mengatakan saat ini traveler tidak hanya mengenang sebuah kota karena bangunan bersejarah atau pusat belanjanya, tetapi juga karena lintasan yang berhasil ditaklukkan dan medali yang berhasil dibawa pulang.
Icin meyakini tren ini masih akan terus berkembang. Menurut dia, minat masyarakat terhadap olahraga lari cenderung stabil bahkan meningkat, berbeda dengan tren olahraga lain yang sering naik turun mengikuti musim.
"Sekarang orang dari luar Jakarta juga banyak banget yang ikut. Fenomenanya tidak turun, malah stabil dan cenderung naik," ujar dia.
Selain WMM, berwisata dengan menandai sebuah kota melalui medali adalah Hyrox. Memang bukan benar-benar medali, mereka yang berhasil menyelesaikan Hyrox bakal diganjar patch lengkap dengan nama kota ajang itu digeber.
Iming-iming patch dari berbagai kota di negara berbeda ditambah seri puncak di World Championship menjadi pemikat bagi traveler.
Selain itu, salah satu alasan Hyrox berkembang pesat sebagai bagian dari tren wisata olahraga adalah karena kompetisi ini dinilai lebih mudah diakses oleh masyarakat umum.
Berbeda dengan sejumlah ajang olahraga yang identik dengan atlet berpengalaman, Hyrox menawarkan format yang dapat diikuti berbagai tingkat kemampuan, mulai dari pehobi gym hingga peserta yang baru pertama kali mengikuti kompetisi kebugaran.
Pendiri DOP Training Club Hong Kong, Dan Yeung, melihat langsung bagaimana kemudahan tersebut mendorong semakin banyak orang bepergian untuk mengikuti race. Dia dan komunitasnya rutin mengorganisasi perjalanan bersama ke berbagai seri Hyrox di Asia.
Dalam salah satu perjalanan ke Taipei, puluhan anggota komunitas berangkat bersama, menginap di hotel yang sama, mengikuti race, lalu melanjutkan agenda wisata dan perayaan setelah lomba selesai.
"Hyrox berhasil menjangkau masyarakat yang lebih luas. Karena itu, semakin banyak kelompok dan komunitas yang bisa bepergian bersama untuk mengikuti race," kata Yeung kepada Channel News Asia.
Menurut dia, daya tarik Hyrox terletak pada formatnya yang ramah bagi pasar umum sehingga membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk menggabungkan olahraga, perjalanan, dan kebersamaan dalam satu pengalaman.