Sebagai contoh, terlalu sering kentut dapat menjadi tanda seseorang sensitif terhadap jenis makanan tertentu, seperti susu yang mengandung laktosa atau gluten.
Sejumlah kondisi lain, seperti diabetes dan hipotiroidisme, juga dapat menyebabkan produksi gas berlebih. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan irritable bowel disease (IBS) atau pertumbuhan bakteri berlebih di usus kecil.
Meski demikian, kentut tetap merupakan hal yang normal. Kebiasaan tertentu juga dapat meningkatkan frekuensi kentut. Merokok, mengunyah permen karet, dan mengonsumsi minuman berkarbonasi dapat menyebabkan lebih banyak udara masuk ke saluran pencernaan sehingga menghasilkan lebih banyak gas.
Begitu pula dengan makanan tinggi serat, seperti kacang-kacangan, lentil, brokoli, dan kubis Brussel, yang dapat menghasilkan gas ketika difermentasi oleh bakteri di usus besar.
Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.