NADIKABAR.COM — Eks pegawai Bank Mandiri Taspen Purwokerto, Nurma Handika Sari alias Dika telah menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Purwokerto. Ia menjadi terdakwa kasus dugaan penipuan dan penggelapan uang sejumlah pensiunan.
Pantauan di lokasi, Dika mengenakan rompi berwarna merah bertulisan nomor 05. Di bagian belakang bertulisan tahanan tindak pidana umum Kejari Purwokerto.
Ia digelandang ke ruang sidang dengan tangan diborgol bersama dengan terdakwa perempuan kasus lainnya. Dika menunjukkan ekspresi datar saat ditodong kamera wartawan.
Saat memasuki ruang sidang beberapa ibu-ibu yang menjadi korban terdengar melontarkan kalimat bernada sindiran kepada terdakwa. Diantaranya 'ayem yah duite akeh, begya gampang temen olih duit' (bahagia ya uangnya banyak, beruntung mudah dapat uang).
Sidang perkara tersebut digelar dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Fikri. Sidang dimulai sekitar pukul 11.20 WIB dan dipimpin majelis hakim yang diketuai Kopsah dengan hakim anggota Veronika Sekar dan Habibi.
Dalam dakwaannya, jaksa mendakwa Nurma dengan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Terdakwa dijerat Pasal 492 tentang penipuan atau Pasal 486 tentang penggelapan juncto Pasal 130 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
Perkara ini menjadi perhatian karena korban yang disebut dalam perkara tersebut mayoritas merupakan pensiunan yang sebelumnya menjadi nasabah Bank Mandiri Taspen.
Kuasa Hukum Bank Mandiri Taspen Purwokerto, Jeffry, mengatakan sidang perdana menjadi babak baru yang dinantikan para korban. Dia menyebut para pensiunan diduga menjadi sasaran modus penipuan dengan iming-iming investasi maupun deposito dengan keuntungan tinggi.
"Beberapa korbannya ada yang sudah mendapatkan imbal hasil dari uang yang ditanam. Namun, sebagian besar korban hanya mendapat pepesan kosong, karena mereka menjadi korban penipuan money game, berskema ponzi," kata Jeffry saat ditemui wartawan, Kamis (27/8).