"Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak ada dasarnya, maka itu ditolak." (HR Muslim No 1718)
Riya dalam ibadah merujuk pada rasa suka pada nikmatnya pujian, menghindari cemoohan, dan menginginkan apa yang terdapat pada orang lain. Dapat dipahami pula bahwa riya merupakan bertindak bukan berasal dari ketulusan hati.
Dalam buku berjudul Etika Islam: Menuju Evolusi Diri karya Faidh Kasyani, dijelaskan bahwa suatu perbuatan berada di dua sisi timbangan. Apabila dijalankan dengan ikhlas, maka bergeser ke sisi kebaikan. Sebaliknya jika dijalankan dengan riya, maka bergeser ke sisi keburukan.
Perihal ibadah secara riya untuk mendapatkan pengakuan orang lain, tertuang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu 'Umamah Al-Bahili. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya." (HR An-Nasa'i No. 3140)