Selain di Indonesia, tanggal 9 September juga menjadi momentum penting bagi masyarakat Tajikistan. Tanggal tersebut menandai peringatan Hari Kemerdekaan Tajikistan.

Menyadur laman National Today, peringatan ini menandai deklarasi kemerdekaan Tajikistan dari Uni Soviet pada 1991. Hari istimewa tersebut biasanya dirayakan oleh masyarakat Tajikistan dengan berbagai kegiatan seperti parade, pertunjukan budaya, serta pertemuan publik.

Tajikistan merupakan negara yang terletak di Asia Tengah, ibu kotanya adalah Dushanbe. Negara tersebut memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi berbagai kerajaan dan kekaisaran, termasuk Kekaisaran Samanid yang kerap dikaitkan dengan sejarah awal identitas Tajik.

Perjalan Tajikistan dimulai ketika Uni Soviet mulai mengalami gejolak politik. Pada 9 September 1991, Soviet Tertinggi Tajikistan mengeluarkan resolusi dan deklarasi mengenai kemerdekaan negara tersebut.

Deklarasi itulah yang menjadi langkah penting bagi Tajikistan untuk membentuk negara yang berdaulat. Kendati demikian, kemerdekaan Tajikistan secara formal baru diperoleh setelah Uni Soviet resmi bubar pada 26 Desember 1991.

Hari Kemerdekaan Tajikistan menjadi momentum tahunan bagi masyarakat Tajikistan untuk memperingati perjalanan sejarah negaranya. Peringatan tersebut sekaligus merayakan identitas, budaya, dan kebanggaan nasional mereka.

Di dunia internasional, tanggal 9 September diperingati sebagai Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya melindungi anak-anak, siswa, guru, serta fasilitas pendidikan dari ancaman kekerasan dan konflik.

Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 2020 dengan dukungan UNESCO dan UNICEF. Peringatan tersebut bertujuan menyoroti kondisi jutaan anak yang tinggal di wilayah konflik dan menghadapi ancaman terhadap akses pendidikan.

Serangan terhadap sekolah, siswa, maupun tenaga pendidik bisa menimbulkan dampak jangka panjang. Tak hanya menghambat proses belajar mengajar, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko anak putus sekolah yang berakibat pada masa depan mereka.