NADIKABAR.COM — Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029. Proyek ini merupakan salah satu target ambisius pemerintah di bidang energi dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institut for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, berpendapat langkah peningkatan kapasitas produksi listrik nasional ini penting untuk mendorong peralihan ketergantungan Indonesia dengan energi fosil yang kini mengalami kenaikan harga imbas konflik di Timur Tengah.

"Elektrifikasi perlu terjadi, kenapa? Elektrifikasi itu meningkatkan efisiensi, efisiensi meningkat artinya produktivitas naik dan itu membuat segala sesuatu jadi lebih punya nilai lebih besar ya untuk input energi," kata Deon dalam Media Briefing yang digelar IERS, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Deon menyebut elektrifikasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada peningkatan kapasitas listrik terpasang, namun juga kepada peningkatan konsumsi listrik melalui peralihan sumber energi di berbagai sektor. Di mana pertumbuhan permintaan listrik nasional diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat pada 2035.

"Proyeksi di laporan kami menyebutkan bahwa pertumbuhan permintaan listrik itu bisa sampai hampir dua kalinya di 2035. Dari angka di 2025 itu 440 Terawatt-hour naik menjadi sekitar 855 Terawatt-hour," paparnya.