Namun, seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran tren. Wisatawan kini justru lebih menyukai jenis bak terbuka. "Karena bisa melihat pemandangan secara langsung," imbuh Wayan.

Untuk dapat beroperasi sebagai taksi, para sopir yang merupakan warga setempat melakukan modifikasi pada kendaraan pikap mereka. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, berkisar tim redaksi Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per unit.

Saat ini, jumlah angkutan pikap wisata ini mencapai ratusan unit yang tersebar di seluruh penjuru Nusa Lembongan. Mengenai tarif, harganya cukup bervariasi tergantung jumlah penumpang.

"Kalau satu rombongan ramai, misal 10 atau 11 orang, diminta Rp 200 ribu sekali angkut. Tapi rata-rata tarifnya di kisaran Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu," jelas Wayan.

Uniknya, harga tersebut bersifat dinamis. Wayan mengaku, dari tarif yang dipatok, para sopir kerap kali ditawar wisatawan.