Bagi Schroeder, perjalanan panjang mereka dari pohon she-oak Australia ke laci museum dan akhirnya masuk ke dalam catatan ilmiah menggambarkan mengapa ilmu mengidentifikasi dan menamai organisme alias taksonomi, tetap penting.

Memberi nama serangga-serangga itu dengan nama seorang seniman yang musiknya telah menemani Schroeder sejak kecil hingga masa studi pascasarjana menawarkan kesempatan untuk menghubungkan misi ilmiah tersebut dengan sesuatu yang sangat pribadi.

Meskipun telah dilakukan selama berabad-abad, terdapat beberapa kontroversi di kalangan ahli entomologi mengenai penamaan bagian-bagian dunia alami berdasarkan nama manusia. Namun, Schroeder sangat yakin bahwa praktik tersebut dapat digunakan secara positif.

"Taksonomi adalah landasan konservasi. Jika kita tidak mendeskripsikan spesies, kita tidak tahu keberadaannya dan tidak dapat melestarikannya. Menghormati Taylor dengan menamai spesies-spesies ini dengan namanya adalah cara untuk menghormati ilmu konservasi dan menarik perhatian pada semua keanekaragaman yang belum diketahui," tandas Schroeder.

Hasil riset Schroeder dan Weirauch telah diterbitkan di jurnal Brill pada 9 September 2026 lalu dengan judul "New genera and species of Australian sheoak-associated plant bugs (Hemiptera: Miridae: Phylinae: Pilophorini and Semiini)".