NADIKABAR.COM — Taylor Swift kini jadi nama serangga pemakan tumbuhan yang baru diidentifikasi di Australia. Ternyata ilmuwan penemunya Swifties alias penggemar Taylor Swift!

Adalah Sarah Schroeder, seorang mahasiswa doktoral di bidang entomologi di University of California (UC) Riverside bersama rekannya Christiane Weirauch menemukan 12 spesies serangga baru di Australia.

Kedua belas serangga itu mereka golongkan ke dalam lima genus. Salah satu genus, diberi nama Swiftiephylus. Genus ini berisi empat spesies yang namanya terinspirasi Taylor Swift serta beberapa albumnya:

Nama-nama tersebut merupakan versi Latin dari Taylor, yang berarti kekasih, pemberani, dan penyair. Nama genusnya menggabungkan "Swiftie," istilah untuk penggemar Swift, dengan Phylus, nama yang umum digunakan untuk kelompok serangga ini.

"Sebagai penggemar Taylor Swift seumur hidup, rasanya sangat tulus untuk menghormati Taylor dengan cara ini, sekaligus menarik perhatian pada keanekaragaman serangga yang belum ditemukan," kata Schroeder dilansir dari laman UC Riverside, Rabu (9/9/2026) dikutip Minggu (13/9/2026).

Schroeder berharap bahwa dengan menamai serangga-serangga ini sesuai nama penyanyi pemenang Grammy Award itu akan bisa menjadi pusat perhatian. Hal ini karena penampilan serangga ini cukup 'centil' dan menarik perhatian, juga mengangkat kesadaran dalam konservasi serangga.

Ia percaya bahwa warna serangga ini membantu mereka berkamuflase di tim redaksi bunga she-oak, yang memiliki struktur ramping berwarna merah hingga oranye. Schroeder menuliskan pewarnaan krem dan merah yang serupa telah diamati pada serangga yang berkerabat jauh yang hidup di tanaman yang sama, menunjukkan bahwa kamuflase mungkin telah berevolusi secara independen beberapa kali.

"Penampilan ikonik Taylor Swift adalah rambut pirang dan bibir merahnya. Serangga ini berwarna kuning pucat dengan aksen merah di seluruh tubuhnya. Dalam makalah ini saya menyebutnya sebagai pirang," kata Schroeder.

Spesies yang baru dideskripsikan ini terkait erat dengan pohon she-oak Australia, pohon dan semak yang beradaptasi dengan lingkungan mulai dari hutan tropis hingga bukit pasir pantai dan panas ekstrem.

Banyak serangga tanaman menghabiskan seluruh hidup mereka pada tanaman inang tertentu, dari menetas hingga dewasa dan bertelur. Meskipun mereka memakan pohon, mereka tidak diketahui menyebabkan kerusakan pada pohon tersebut.

Schroeder dan Weirauch memeriksa 593 spesimen yang dipinjam dari Museum Sejarah Alam Amerika dan Museum Australia, yang dikumpulkan tim redaksi tahun 1995 dan 2004. Serangga-serangga tersebut terbagi ke dalam kelompok evolusi yang berbeda meskipun memiliki tanaman inang yang sama dan warna yang serupa.

Bagi Schroeder, perjalanan panjang mereka dari pohon she-oak Australia ke laci museum dan akhirnya masuk ke dalam catatan ilmiah menggambarkan mengapa ilmu mengidentifikasi dan menamai organisme alias taksonomi, tetap penting.

Memberi nama serangga-serangga itu dengan nama seorang seniman yang musiknya telah menemani Schroeder sejak kecil hingga masa studi pascasarjana menawarkan kesempatan untuk menghubungkan misi ilmiah tersebut dengan sesuatu yang sangat pribadi.

Meskipun telah dilakukan selama berabad-abad, terdapat beberapa kontroversi di kalangan ahli entomologi mengenai penamaan bagian-bagian dunia alami berdasarkan nama manusia. Namun, Schroeder sangat yakin bahwa praktik tersebut dapat digunakan secara positif.

"Taksonomi adalah landasan konservasi. Jika kita tidak mendeskripsikan spesies, kita tidak tahu keberadaannya dan tidak dapat melestarikannya. Menghormati Taylor dengan menamai spesies-spesies ini dengan namanya adalah cara untuk menghormati ilmu konservasi dan menarik perhatian pada semua keanekaragaman yang belum diketahui," tandas Schroeder.

Hasil riset Schroeder dan Weirauch telah diterbitkan di jurnal Brill pada 9 September 2026 lalu dengan judul "New genera and species of Australian sheoak-associated plant bugs (Hemiptera: Miridae: Phylinae: Pilophorini and Semiini)".