Dari sisi kinerja, Perbarindo mencatat aset BPR tumbuh 4,25 persen secara tahunan hingga Juli 2026, sedangkan aset BPRS meningkat 12 persen.
Pada periode yang sama, kredit BPR tumbuh 3,12 persen secara tahunan, sementara pembiayaan BPRS meningkat 6,23 persen.
Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, tabungan BPR tumbuh 4,21 persen dan tabungan BPRS meningkat 10,27 persen. Adapun deposito BPR tumbuh 2,14 persen, sedangkan deposito BPRS sekitar 4,5 persen.
Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi modal penting bagi keberlanjutan industri BPR-BPRS dalam memperluas layanan pembiayaan.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan BPR-BPRS mencapai Rp179,48 triliun pada Agustus 2026.
Porsi pembiayaan UMKM pada masing-masing industri juga melampaui 50 persen dari total kredit atau pembiayaan yang disalurkan.
Meski demikian, OJK masih mencatat 169 BPR-BPRS dengan modal inti di bawah Rp6 miliar, terdiri atas 137 BPR dan 32 BPRS. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian regulator dalam memperkuat permodalan, tata kelola dan daya saing industri.