"Kalau dengan 3D ini bisa diibaratkan kayak pakai Google Maps, pakai GPS. Jadi sama tujuannya membawa kita ke tujuannya nyari di mana titik korsletnya, tetapi tentu saja jauh lebih praktis, lebih cepat, dan mungkin lebih aman, nggak pakai tersesat-tersesat banyak gitu," jelasnya.

Penggunaan teknologi tersebut juga berpotensi mempersingkat waktu tindakan. Namun, durasi ablasi tetap bergantung pada kondisi dan tingkat kompleksitas pasien. Secara umum, tindakan berlangsung sekitar satu hingga tiga jam.

Putra menyebut kebutuhan layanan ablasi di Bali cukup tinggi. Saat masih bekerja di salah satu rumah sakit pemerintah, ia dapat menangani sekitar 120 kasus ablasi dalam setahun.

Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dapat terpenuhi karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Saat ini, baru dirinya yang melakukan tindakan tersebut dan nantinya akan ditambah satu dokter.

Bahkan, pada awal 2026, antrean tindakan ablasi di salah satu rumah sakit pemerintah di Bali mencapai sekitar empat hingga enam bulan.