"Di awal tahun antrean di rumah sakit pemerintah untuk tindakan yang memerlukan ablasi itu sekitar 4 sampai 6 bulan. Karena keterbatasan lebih ke orangnya sih yang mengerjakan, tapi jumlah pasiennya cukup banyak," imbuhnya.
Sementara itu, Hospital Director Siloam Hospitals Bali, Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, mengatakan kehadiran teknologi pemetaan 3D di Siloam Hospitals Bali diharapkan turut memperluas akses layanan jantung bagi masyarakat, termasuk pasien dari wilayah Indonesia Timur.
Menurutnya, pasien dari kawasan Indonesia Timur memiliki akses yang lebih dekat apabila dirujuk ke Bali dibandingkan harus mendapatkan layanan serupa di Jakarta, Surabaya, maupun luar negeri.
"Kalau dari Indonesia Timur ke Bali lebih dekat daripada harus ke Jakarta, Surabaya, apalagi ke luar negeri. Jadi tujuannya memang kembali untuk meningkatkan accessible atau akses masyarakat untuk mendapatkan layanan yang lebih komprehensif untuk jantung," katanya.
Namun, layanan ablasi dengan teknologi 3D tersebut membutuhkan biaya yang relatif tinggi sejalan dengan alat yang masih sedikit. Ia menyebut biaya tindakan ablasi berada pada kisaran Rp 190 juta hingga Rp 200 juta.